Rabu, 19 Maret 2014

makalah gunung kelud

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia. Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air. Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan. Peristiwa meletusnya Gunung Kelud, Jawa Timur, mendapatkan perhatian luas dari dunia internasional. Sejumlah media massa dan kantor berita asing memberitakan peristiwa bencana alam tersebut. Letusan Gunung Kelud kali ini tercatat menimbulkan dampak yang cukup parah bagi kawasan sekitarnya, seperti Kabupaten dan Kota Kediri, Blitar, dan Kabupaten Malang. Bencana ini mengakibatkan 35 kelurahan dan tiga kecamatan tertutup abu tebal. Diperkirakan sebanyak 200 ribu jiwa harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Dengan demikian alas an kami mengangkat tema tersebut adalah untuk member wawasan pada pambaca agar dapat menyikapinya dengan bijak jika terjadi letusan Gunung Kelud. 1.2. Rumusan Masalah a. Bagaimana sejarah Gunung Kelud? b. Bagaimana erupsi Gunung Kelud? c. Bagaimana keindahan dan kebudayaan Gunung Kelud? 1.3. Tujuan Makalah a. Untuk mengenal tentang Gunung Kelud b. Untuk mengetahui sejarahnya Gunung Kelud c. Sebagai penambah wawasan bagi pembaca BAB II PEMBAHASAN 2.1. Sejarah Gunung Kelud Gunung Kelud merupakan gunungapi strato andesitik yang tergolong masih aktif, terletak di Jawa Timur . Letusan 1586 merupakan letusan yang paling banyak menimbulkan korban jiwa yaitu sebanyak 10.000 orang meninggal. Selama abad 20 telah terjadi 5 kali letusan masing masing pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966 dan 1990 dengan jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 5400 jiwa. Letusan tahun 1901 Letusan Gunung Kelud terjadi pada tengah malam antara tanggal 22 dan 23 Mei 1901. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 00.00 – 01.00. Selama dua jam aktivitas erupsi semakin meningkat dan pada pukul 03.00 letusan utama terjadi. Asap letusan pekat membumbung dari kawah Kelud, kemudian hujan lapilli mulai terjadi di sekitar Kelud. Segera setelah lapilli jatuh, diikuti dengan debu basah dan lumpur. Kejadian selanjutnya berupa hujan abu panas. Di Kediri abu panas mulai turun sekitar pukul 03.30 dan bau belerang tercium di segala tempat. Letusan terdengar sampai jarak jauh bahkan sampai di Pekalongan. Distribusi hujan abu sampai mencapai Sukabumi dan Bogor. Letusan Mei 1901 ini terjadi setelah selang waktu sekitar 37 tahun masa tenang yaitu sejak letusan tahun 1864. Letusan ini terjadi masih berada di dalam kawah Kelut dan tidak mengakibatkan hancurnya dinding kawah. Informasi yang diperoleh menjelang letusan bahwa sekitar 12 hari sebelum letusan terlihat air danau kawah Kelut mendidih. Zona pendidihan tersebut membentuk lingkaran besar di permukaan danau kawah. Pada saat letusan sebagian air danau kawah terlemparkan. Diperkirakan terdapat volume air danau kawah sekitar 38 juta meter kubik sebelum letusan. Material padat yang dilemparkan gunung Kelut selama letusan kira- kira 200 juta meter kubik. Korban jiwa cukup banyak namun informasi tentang jumlahnya tidak jelas. Pada tanggal 11 Juli 1907 dilakukan penggalian di lereng barat untuk mengurangi volume air danau kawah, namun demikian air danau kawah hanya berkurang setinggi 7,4 meter atau pengurangan volume sebesar 4,3 juta meter kubik. Letusan tahun 1919 Letusan tahun 1919 merupakan bencana terbesar yang dihasilkan oleh aktivitas gunung Kelut pada abad ke 20, yang mengakibatkan sekitar 5160 orang meninggal. Letusan terjadi pada tengah malam antara tanggal 19 dan 20 Mei 1919 yang ditandai dengan suara dentuman amat keras bahkan terdengar sampai di Kalimantan. Sekitar pukul 01.15, terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari arah gunung Kelut . Diperkirakan pada saat itulah terjadi letusan utama. Beberapa saat kemudian hujan abu mulai turun. Selain hujan abu, di daerah perkebunan di lereng Kelut terjadi hujan batu dan kerikil. Di Darungan hujan batu cukup hebat sehingga sebagian besar atap rumah hancur. Hujan abu menyebar akibat tiupan angin terutama ke arah timur. Di Bali hujan abu terjadi pada tanggal 21 Mei 1919. Dari perhitungan endapan abu dapat ditaksir bahwa sekitar 284 juta meter kubik abu terlemparkan, jumlah ini setara dengan sekitar 100 juta meter kubik3 batuan andesit. Secara keseluruhan diperkirakan 190 juta meter kubik material telah keluar dari perut gunung Kelud. Bencana letusan Gunung Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar panas yang menyertainya. Sebelum letusan, volume air danau kawah mencapai 40 juta meter kubik, air sejumlah itu terlempar keluar kawah pada saat letusan. Lahar yang terbentuk merupakan lahar primer yang terjadi secara langsung oleh air danau kawah yang tertumpahkan pada saat letusan . Sekitar pukul 01.30 aliran lahar yang merupakan campuran dari air panas, lumpur, pasir, batu- batuan memasuki kota Blitar menciptakan kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar yang mengalir di kota Blitar sekitar 18 m/detik atau sekitar 65 km/jam. Jarak maksimum aliran lahar primer mencapai 37,5 km (dihitung dari puncak Kelut). Letusan 1919 ini mengakibatkan 104 desa rusak berat, kerusakan sawah,tegal,pekarangan dan perkebunan kopi,tebu dan ketela mencapai 20.200 bau (5050 hektar) dan korban binatang sebanyak 1571 ekor. Bencana letusan 1919 memberikan pelajaran bagi pemerintah saat itu untuk mengurangi volume air yang ada di danau kawah. Dari pengamatan yang dilakukan antara tahun 1901 sampai 1905, diperkirakan air yang masuk ke danau kawah mencapai rata- rata 6,5 juta meter kubik3 per tahun. Air yang cukup banyak yang selalu menjadi jaminan bahwa kawah Kelut akan selalu menjadi danau itu harus dikeluarkan sehingga volume air akan terjaga pada volume yang tetap kecil. Mulai tahun 1920 dibangun terowongan pembuangan air dengan panjang sekitar 980 meter dan garis tengah 2 meter. Terowongan tersebut di buat mulai dari kawah menuju barat untuk mengalirkan air danau kawah ke Kali Badak, namun demikian kecelakaan yang disebabkan oleh runtuhnya dinding kawah menyebabkan pekerjaan pembuatan terowongan dihentikan pada tahun 1923. Pekerjaan kontruksi terowongan akhirnya selesai tahun 1924. Dengan adanya terowongan tersebut, ketinggian air dapat dikurangi sebesar 134,5 m dengan volume tersisa hanya sebesar 1,8 juta meter kubik. Letusan tahun 1951 Dua kali gempa terasa terjadi sekitar 3 minggu sebelum letusan. Letusan terjadi pada tanggal 31 Agustus 1951. Pukul 06.15 terlihat asap tebal berwarna putih keluar dari puncak Kelut. Makin lama makin besar dan disertai dengan suara gemuruh. Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 06.30, terdengar suara letusan. Sesaat terlihat asap tebal kehitaman membumbung dari kawah Kelut condong ke selatan. Sekitar 4 suara dentuman terdengar dari Wlingi. Tiga puluh menit kemudian di Margomulyo terjadi hujan batu sebesar buah mangga dan abu. Pandangan mata hanya dapat mencapai 3 – 4 meter. Informasi dari Candisewu menyebutkan hujan batu yang berlangsung sekitar 1 jam, disamping itu juga terasa gempa sebanyak 2 kali. Abu tercatat turun sampai di Bandung. Pengamatan menyebutkan bahwa pada saat letusan terjadi angin kencang ke arah barat. Diperkirakan sekitar 200 juta meter kubik material dilontarkan selama letusan. Sebab terowongan telah dibangun maka volume air danau kawah sebelum letusan hanya sekitar 1,8 juta meter kubik. Pada saat letusan, air tersebut sebagian besar diuapkan dan tidak mengalir sebagai lahar primer besar. Kejadian lahar besar sebagaimana pada letusan 1919 tidak terjadi. Lahar kecil hanya mencapai jarak maksimal sekitar 12 km jauh lebih kecil dari lahar primer 1919 yang mencapai jarak maksimal sekitar 37 km. Terdapat korban letusan sebanyak 7 orang meninggal, tiga diantaranya adalah pegawai Dinas Vulkanologi yang bertugas yaitu Suwarnaatmadja, Diman dan Napan. Sedangkan yang luka-luka sebanyak 157 orang. Sekitar 320 hektar areal perkebunan dan kehutanan rusak. Gejala menjelang letusan telah diamati sebelumnya yaitu suhu air kawah naik dari sekitar 28°C pada bulan Pebruari 1951 menjadi sekitar 40,8°C pada bulan Agustus 1951. Kenaikan suhu air tersebut berlanagsung dalam dua tahaap secara perlahan dari bulan Pebruari ke pertengahan Agustus (dari 28°C – menjadi 38,5°C) namun terjadi kenaikan suhu air yang cepat mulai tanggal 19 Agustus 1951 dan mencapai 40,8°C pada tanggal 24 Agustus, sekitar seminggu sebelum letusan. Pada keadaan suhu maksimal tersebut warna air danau mulai berubah dari hijau tua ke hijau muda kekuningan. Gelembung dan bualan bertambah banyak dan semakin melebar. Penurunan suhu air tercatat pada tanggal 26 Agustus. Diperkirakan, karena tidak ada data sesudahnya sampai kejadian letusan terjadi penurunan secara pelan-pelan sejak tanggal 25 Agustus. Letusan tahun 1966 Sesudah letusan tahun 1951, dasar kawah baru lebih rendah 79 meter dari pada dasar kawah sebelumnya. Penurunan dasar kawah ini menyebabkan volume air danau mencapai sekitar 21,6 juta meter kubik sebelum letusan 1966. Volume ini jauh lebih besar dari volume air sebelum letusan 1951 yang hanya 1,8 juta meter 3. Letusan terjadi pada tanggal 26 April 1966 pukul 20.15 yang menyebabkan terjadinya lahar pada alur K.Badak, K.Putih, K.Ngobo, K.Konto, dan K.Semut. Korban manusia berjumlah 210 orang di daerah Jatilengger dan Atas Kedawung. Letusan ini menghasilkan tephra sekitar 90 juta meter 3. Seismograf yang berada di Pos Margomulyo mencatat gempa pada 15 menit menjelang letusan. Warna air danau menjelang letusan juga berubah, dimana sebulan sebelum letusan air yang semula berwarna hijau tua berubah menjadi hijau kekuningan dan perubahan tersebut merata di seluruh permukaan kawah. Dua hari menjelang letusan teramati bahwa warna air berubah kembali seperti semula. Perkembangan perubahan suhu air kawah tidak teramati demikian pula tumbuhan di sekitar mulut kawah tetap segar saat menjelang letusan. Letusan tahun 1990 Letusan terjadi pada tanggal 10 Februari 1990, letusan ini merupakan kejadian letusan G.Kelut yang dipantau dengan seksama oleh Direktorat Vulkanologi yang tergabung dalam suatu tim khusus yang disebut sebagai Tim Vulkanik G.Kelut. Pemantauan yang dilakukan menggunakan berbagai metoda yaitu seismik, pengukuran suhu, geolistrik potensial diri, dan pemantauan visual EDM dan Tiltmeter. Volume air danau yang hannya sekitar 1,8 juta meter kubik merupakan faktor yang membuat tidak terjadinya lahar panas pada letusan kali ini. Sebagaimana pada letusan 1951 volume air yang kecil tersebut teruapkan ketika terjadi letusan. Letusan terjadi secara beruntun mulai pukul 11.41 sampai 12.21 wib. Tahap awal dari letusan merupakan fase freatomagmatik yang mengakibatkan sebaran abu tipis di sekitar puncak, sedangkan letusan berikutnya lebih besar dengan lemparan pasir, lapilli, dan batu yang tersebar pada radius 3,5 km 2 . Jarak jangkau 1,5 km ke arah timur dan sekitar 5 km ke arah barat, barat laut dan barat daya. Letusan utamanya berupa letusan plinian dengan awanpanas menyusuri lembah di baratdaya sejauh 5 km dari kawah. Letusan tersebut berintensitas sedang dengan tephra sekitar 130 juta meter 3. Daerah yang rusak tidak terlalu luas, hanya dalam jangkauan radius sekitar 2 km dari kawah, namun demikian sebaran abu letusan jauh lebih luas dan diperkirakan mencapai luasan sekitar 1700 km 2. Kerusakan rumah penduduk dan fasilitas publik pada umumnya disebabkan oleh hujan abu tersebut. Sekitar 500 rumah dan 50 gedung sekolah rusak, kerusakan terjadi dalam isopach 10 cm yaitu pada jarak maksimum sekitar 15 km dari puncak, korban manusia tercatat 32 orang. Gejala menjelang letusan teramati pada bulan November 1989 yaitu adanya peningkatan suhu air danau kawah dari sekitar 31 - 34° C menjadi sekitar 35° C. Suhu permukaan air danau kawah ini secara rata- rata mengalami peningkatan terus sampai saat terjadinya letusan, bahkan sampai sekitar 41° C menjelang letusan. Warna air danau kawah berubah dari hijau muda jernih menjadi hijau muda agak putih. Tingkat keasamaan air danau meningkat dari pH sekitar 5,5 – 6 pada bulan Oktober 1989 berangsur semakin asam sampai mencapai pH 4,2 pada bulan Januari 1990. Peningkatan aktivitas seismik mulai terlihat pada tanggal 9 November 1989, yang ditandai dengan kenaikan jumlah Gempa Vulkanik yang biasanya kurang dari satu kejadian perhari menjadi 9 kejadian Gempa Vulkanik perhari pada tanggal 9 November 1989. Kemudian pada tanggal 20 November 1989 gempa vulkanik bahkan tercatat sebanyak 40 kali. Jumlah gempa harian kemudian mengalami penurunan dari tanggal 22 November sampai minggu pertama Januari 1990. Secara rata- rata penurunan tersebut terjadi dari sekitar 12 gempa per hari pada sekitar tanggal 27 November 1989 sampai hanya sekitar 1-2 gempa per hari pada awal Januari. Penurunan kejadian gempa ini diakhiri dengan munculnya tremor antara tanggal 3 – 9 Januari 1990. Kejadian tremor ini yang mengakhiri kecenderungan penurunan dan juga menjadi awal peningkatan secara mencolok aktivitas kegempaannya. Dari tanggal 14 januari sampai 21 januari merupakan episode dimana aktivitas gempa vulkanik cukup intensif. Tanggal 22 Januari sampai 8 Februari merupakan periode tenang. Gempa vulkanik tidak lebih dari 5 gempa per hari. Pada periode ini terjadi peningkatan derau akustik di dalam danau kawah . Intensitas derau meningkat sekitar 4 kali lipat dari rata- rata ambang sebelumnya. Kejadian letusan diawali dengan munculnya swarm gempa vulkanik pada tanggal 9 Februari pada pukul 12.17 wib. Secara cepat gempa meningkat dan pada tanggal 10 Februari muncul tremor vulkanik pada pukul 09.32 dengan amplitudo yang semakin membesar dan berlanjut pada kejadian letusan. Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status “awas” (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi. Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan. Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus “tumbuh” hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990. Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi “siaga” (tingkat 3). 2.2. Erupsi Gunung Kelud Aktivitas letusan umumnya dimulai dengan suatu ledakan freatik yang diikuti oleh suatu letusan plinian pendek/singkat dengan kolom kerucut terbalik yang mencapai ketinggian dari lebih dari 10 km. Letusan ini yang memproduksi lahar yang merusak, serta letusan piroklastik yang memproduksi abu vulkanik (lihat gambar 1 dan 2). Sebaran abu vulkanik pada letusan 1901 dan 1919 dari gunung api Kelud. Diadaptasikan Dari Kemmerling ( 1921). Pada letusan 1919, abu vulkanik terbagi dua. Awan abu yang berketinggian lebih rendah tersebar ke timur sampai sejauh Bali dan awan abu yang lebih tinggi tersebar ke Barat. Sebaran abu vulkanik dari letusan 1990 (Bourdier et al., 1997). Abu ini menghancurkan lebih dari 500 rumah. atap yang runtuh adalah penyebab utama kematian (total 32 orang) pada letusan ini. ( GVN Bull. 1990, Bourdier et al. 1997). Lahar primer (lahar setelah letusan) sangat sering terjadi pada Kelud dan diproduksi oleh ledakan yang hebat dari perairan dari danau kawah/kepundan. Tetapi Kelud juga cenderung menghasilkan lahar sekunder (i.e. tidak secara langsung berhubungan dengan suatu letusan) karena lereng gunung mudah tergerus oleh hujan yang melimpah dan oleh karena kehadiran dari material pyroclastic yang melimpah dan lepas ( Thouret et al, 1998). Area yang paling terekspos adalah lereng barat ( lahar Gedok) dan barat daya ( lahar Badak) karena dinding kepundan yang lebih rendah di sisi barat. Lahar primer sangat merusak dan mengakibatkan sebagian besar kematian sampai volume dari danau dikurangi oleh suatu sistem drainase. Sebelum 1875, volume dari perairan danau mencapai sekitar 78 juta m3. Tahun 1875, suatu bencana yang tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanis terjadi. Hujan lebat menjebol lubang kepundan mengakibatkan air danau tumpah ke lereng barat daya menghasilkan lahar sepanjang 13 km yang merusak wilayah Srengat. Setelah bencana ini, volume dari danau dikurangi menjadi 40 juta m3. Pada tahun 1905, suatu tanggul dibangun oleh administrasi lokal Belanda sepanjang sungai Badak untuk mengalihkan lahars ke kota Blitar. Ketika letusan yang berikutnya terjadi, tanggul ini terbukti tidak efektip dengan dihanyutkan oleh lahar letusan 1919. Lahar 1919 yang menempuh perjalanan sejauh 38 kilometer kurang dari suatu jam dan menghancurkan suatu wilayah lebih dari 15,000 hektar, membinasakan ratusan kampung dan membunuh 5160 orang. Letusan yang dramatis pada bulan Mei 1919 ini mendasari Survey Vulkanologi untuk memutuskan tugas yang pertama untuk mengalirkan air danau kawah melalui suatu terowongan. Pekerjaan engineering dimulai pada September 1919 dan perlu beberapa tahun untuk diselesaikan. Rencana awal adalah menggali suatu terowongan sepanjang 955m. Ketika pekerjaan dimulai, danau kawah masih kering dan penggalian terowongan dimulai dari kedua sisi dari dinding kawah (Bemmelen van, 1949). Oleh karena temperatur yang tinggi yang di area kerja penggalian (46°C), terowongan waktu itu belum diselesaikan di 1923. Pada waktu itu danau kawah telah separuh penuh (22 juta m3). Suatu banjir lumpur dan kerikil yang mendadak memenuhi terowongan membunuh lima pekerja, sehingga pekerjaan dihentikan. Rencana baru diputuskan untuk menurunkan level danau secara progresif dengan pengeboran 7 terowongan paralel dan menggunakan suatu pipa sifon untuk mengalirkan air danau. Pekerjaan ini akhirnya diselesaikan th 1926 dan sukses menurunkan volume danau sampai kurang dari 2 juta m3. Kelud mungkin merupakan salah satu yang pertama dan contoh yang paling ambisius dari suatu pekerjaan rancang-bangun yang dibuat di suatu gunung api untuk mengurangi ancaman dari suatu danau kawah. Letusan 1951 menghasilkan kerusakan kecil. Jika dibandingkan dengan bencana 1919, lahar menempuh jarak maksimum 6.5 km. Tetapi, letusan ini memperdalam dan memperlebar lubang kawah sehingga ketika letusan 1966 terjadi, volume dari air di danau kawah yang telah naik ke lebih dari 23 juta m3. Setelah letusan 1966, suatu terowongan yang baru dibangun 45 m di bawah lubang yang paling rendah terdahulu dan volume dari air danau berkurang lagi menjadi 2.5 juta m3. Beberapa dam dan sabuk juga dibangun pada lereng gunung untuk mengurangi penyebaran lahar. Tidak ada lahar primer diproduksi oleh letusan plinian 1990 tetapi sedikitnya terjadi 33 lahar setelah letusan sampai sejauh 24 km dari kawah ( Thouret et al, 1998). Variasi kontur kawah Kelud 2.3. Keindahan dan Kebudayaan Pada Gunung Kelud Gunung Kelud menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Seperti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat,Gunung Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.Untuk menolak lamaran tersebut,Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok. Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur. Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung. (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji. sebagai salah satu warga dari desa wisata tersebut, saya ingin mengenalkan Keindahan Kelud yang merupakan tanah tumpah darah saya. Karena disinilah saya dilahirkan, kemudian tumbuh, menjalani hari-hari sebagai anak desa, sebagai anak petani, tapi justru disinilah surga dunia buat saya, semoga pembaca bisa merasakan hal yang sama. berikut beberapa kebudayaan yang tersimpan pada gunung kelud : Nyadran, adalah sebuah tradisi yang masih di pertahankan oleh masyarakat Desa Sugihwaras Yang umumnya adalah masyarakat kelud, yang masih mempercayai adanya danyang Desa , sehingga setiap masyarakat akan mengadakan hajat (Mantu,khitanan,panen melimpah) atau punya nadar masyarakat kelud mengadakan nyadaran ke danyang Desa, ada dua tempat yang ada di desa Sugihwaras sebagai tempat nyadaran yaitu, Danyangan Mbah Sumber, Danyangan Mbah Ringin. Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan tradisi tahunan masayarakat kelud terutama masyakat Desa Sugihwaras Sebagai tuan rumah dan masyarakat Lima Desa Yang ada di seputaran gunung kelud yaitu masyarakat Desa , Babadan, Pandantoyo, Sempu, dan Ngancar, ritual sesaji gunung kelud di selenggarakan setiap bulan suro (Penganggalan jawa) Tujuan dari acara ini adalah ungkapan rasa sukur masyarakat kelud kepada tuhan yang maha Esa , yang telah memberikan keselamatan dan anugerah berupa alam yang subur gemah ripah loh jinawi kepada masyarakat kelud. Acara yang di selenggarakan setiap satu tahun ini selalu rame di kunjungi wisatawan, karena di dalam acara ritual sesaji Gunung kelud , ada banyak pementasan kesenian tradisional. beberapa tempat yang saya sarankan untuk jgn di lewatkan jika berkunjung ke gunung kelud : goa belanda Gunung/ Tebing Sumbing anak gunung kelud pemandian air panas di wisata anak gunung kelud kita akan di sambut dengan iringan lgu gamelan dan kuda lumping yang di mainkan oleh warga-warga sekitar. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bencana letusan Gunung Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar panas yang menyertainya. Sebelum letusan, volume air danau kawah mencapai 40 juta meter kubik, air sejumlah itu terlempar keluar kawah pada saat letusan. Lahar yang terbentuk merupakan lahar primer yang terjadi secara langsung oleh air danau kawah yang tertumpahkan pada saat letusan . Sekitar pukul 01.30 aliran lahar yang merupakan campuran dari air panas, lumpur, pasir, batu- batuan memasuki kota Blitar menciptakan kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar yang mengalir di kota Blitar sekitar 18 m/detik atau sekitar 65 km/jam. 3.2. Saran Pembaca disarankan untuk lebih banyak meneliti dan mencari tahu gunung – gunung api yang ada dan masih aktif di Indonesia. Sehingga kita bisa memperluas ilmu pengetahuan kita baik di sekolah formal maupun non formal.

Makalah Banjir



BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Sebagai kota yang berada di daratan rendah, Jakarta tidak terlepas dari ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Menurut catatan sejarah Ibukota Jakarta telah dilanda banjir sejak tahun 1621. Salah satu bencana banjir terparah yang pernah terjadi di Batavia adalah banjir yang terjadi di bulan Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah Batavia terendam air. Daerah yang terparah saat itu adalah gunung Sahari, Kampung Tambora, Suteng, Kampung Klenteng akibat bendungan kali Grogol jebol.
Hingga kini banjir pun belum berhenti meyerang Jakarta. Apalagi ketika musim penghujan telah tiba. Oleh karena banjir yang terus menerus melanda sebagian wilayah di Jakarta kini kota Jakarta telah terkenal dengan Kota Banjir. Walau demikian warga Jakarta tidak berhenti mencoba menanggulangi banjir di Ibukota tercinta ini.
Sehubungan dengan cara untuk mencoba menanggulangi banjir tersebut, maka berbagai masalah penyebab banjir pun mulai muncul dari masalah sampah, curah hujan yang tinggi, peluapan air yang berlebihan, pecahnya bendungan sungai, serapan air yang buruk, hingga pemukiman liar dan pemukiman padat penduduk. Dan warga yang terkena banjir selalu mengambil strategi sendiri untuk menanggulangi banjir ketika banjir datang ke rumah mereka.
Dengan begitu banyak masalah yang dapat mengakibatkan banjir. Maka objek yang akan di ambil penulis adalah daerah Kebagusan wilayah Pasar Minggu Jakarta Selatan. Daerah tersebut merupakan daerah yang rawan banjir ketika musim penghujan telah datang. Pentingnya melakukan penulisan untuk membahas penyebab banjir di daerah tersebut, maka penulis tertarik untuk memberi judul dalam makalah ini tentang “ Banjir ibukota dan penanggulangannya “.

1.2      Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya adalah :
1.   Apa yang dimaksud dengan banjir, dan apa dampak yang di timbulkannya ?
2.   Mengapa banjir dapat menggenangi ibukota ?
3.   Siapa yang bertanggung jawab atas banjir yang terjadi di ibukota ?
4.   Bagaimana cara mengatasi banjir di ibukota?

1.3      Tujuan Penulisan
1.   Mengetahui tentang banjir dan dampak yang ditimbulkannya
2.   Mengetahui penyebab banjir yang terjadi di ibukota
3.   Mengetahui siapa saja yang bertanggung jawab atas terjadinya banjir tersebut
4.   Mengetahui cara mengatasi banjir di ibukota
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengeritian Banjir dan Dampak Yang Ditimbulkannya
Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.
Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.
Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.
  5. Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.
Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.
Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.
Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS. Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Dampak  yang ditimbulkan oleh banjir

Merugikan Secara Umum
Banjir yang terjadi  selalu menimbulkan kerugian  bagi mereka yang terkena banjir baik secara langsung maupun tidak langsung yang dikenal sebagai dampak banjir.
Dampak banjir  akan dialami langsung oleh mereka yang rumah atau lingkungannya terkena air banjir. Jika banjir berlangsung lama akan sangat merugikan karena aktivitas akan banyak terganggu.
Segala aktivitas tidak nyaman dan lingkungan menjadi kotor yang berdampak kurangnya sarana air bersih dan berbagai penyakit mudah sekali menjangkiti warga yang terserang banjir.

Penyakit Yang Timbul Sebagai Dampak Banjir
Dampak banjir yang terjadi sering kali menganggu kesehatan lingkungan dan kesehatan warga. Lingkungan tidak sehat karena segala sampah dan kotoran yang hanyut seringkali mencemari lingkungan .
Sampah-sampah terbawa air dan membusuk mengakibatkan penyakit gatal-gatal di kulit, dan lalat banyak beterbangan karena sampah yang membusuk sehingga sakit perut juga banyak terjadi. Sumber air bersih tercemar sehingga mereka yang terkena banjir kesulitan air bersih dan mengkonsumsinya karena darurat, sebagai penyebab diare.


Mematikan Usaha
Dampak banjir memang luar biasa luas.Rumah bisa rusak gara-gara terendam banjir. Barang-barang perabotan rumah tangga jika tidak segera diselamatkan bisa hanyut dan rusak pula. Yang lebih parah jika penduduk yang memiliki usaha rumahan bisa terganggu aktivitas produksinya sehingga mengakibatkan kerugian.
Kerugian akibat tidak bisa produksi berdampak pada karyawan yang bergantung nasib pada usaha tersebut. Kerugian tidak berjalannya produksi bisa kehilangan pelanggan, kemacetan modal serta kerusakan alat gara-gara banjir. Jika terus menerus situasi terjadi demikian mengakibatkan macetnya ekonomi kerakyatan yang kemudian berdampak pada semakin meningkatnya masalah sosial di lingkungan masyarakat yang sering di landa banjir.

Kerugian Administratif
Sering kali dampak banjir ini bukan sekedar membawa dampak kerugian material.  Akibat banjir sering kantor, sekolah atau instansi bahkan pribadi harus kehilangan dokumen penting kependudukan dan sejenisnya.
Akibat banjir sering kali sekolah harus diliburkan paksa dari aktivitas belajar. Seluruh siswa dan dan guru tidak bisa beraktivitas rutin, bahkan terkadang banyak berkas dan data penting yang disimpan sekolah rusak terendam banjir.
Banjir memang tidak bisa diketahui kapan datangnya, namun juga dapat diantisipasi dengan menyiapkan diri menyelamatkan dokumen penting  ke tempat yang lebih tinggi. Membuat bangunan khusus yang bertingkat yang aman untuk meletakkan dokumen penting serta alat-alat belajar yang rentan rusak bila terendam banjir bagi sekolah yang berada di daerah rawan banjir adalah perlu.

Kembali Ke Titik Nol
Dampak banjir sering menjadikan seseorang, keluarga, lingkungan masyarakat, instansi, sekolah dan siapa saja mengalami kerugian. Tidak jarang pula keluarga harus kehilangan segala-galanya. Kehilangan orang-orang yang dicintai,keluarga, rumah dan segala isinya, juga pekerjaan.
Berada dititik nol istilah yang tepat . Semua habis dan hilang sekejab. Tidak jarang mereka yang mengalami musibah banjir ini harus kehilangan ingatan pula karena mengalami depresi yang berat akibat tidak kuat menanggung beban dampak banjir untuk dirinya.

Bencana Nasional
Sering kali di negara kita tercinta ini terjadi bencana banjir besar atau banjir bandang. Baru-baru ini juga terjadi di Papua tepatnya di Wasior terjadi banjir bandang yang memakan korban manusia begitu banyak.
Kehidupan masyarakat yang teratur dan tentram tiba-tiba terkoyak gara-gara banjir. Penderitaan begitu jelas tergambar pada mereka yang harus mengalaminya. Pemerintah menetapkan sebagai bencana nasional.
Sebagai Warga negara yang memiliki kepedulian tinggi  hampir semua warga negara Indonesia di daerah manapun berbondong untuk saling mengulurkan tangan untuk bisa berbagi agar dapat meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang terkena dampak banjir di Wasior Papua (http://www.anneahira.com/dampak-banjir.htm).

2.2 Faktor Penyebab Banjir Di Ibukota
Di tinjau dari letak geografis, kondisi topografi, iklim, faktor demografi, dan kondisi sosial masyarakat, maka kemungkinan terjadinya banjir di Indonesia khususnya Jakarta cukup besar. Banjir dapat setiap saat terjadi dan sulit di perkirakaan intesitasnya, tempat, waktu baik pada daerah yang sudah ditangani dan belum sempat di tangani.
Peristiwa banjir tidak akan menjadi masalah sejauh banjir tidak menimbulkan gangguan atau kerugian yang berart bagi kepentingan manusia. Fenoma banjir disebabkan oleh tiga faktor yaiut kondisi alam, peristiwa alam, dan kegiatan manusia.
1. Faktor-faktor kondisi alam yang dapat menyebabkan terjadinya banjir adalah kondisi wilayah, misalnya : letak geografis suatu wilayah, kondisi topografi, dan geometri sungai seperti kemiringan dasar sungai, meandering, penciutan ruas sungai, sedimentasi, pembendungan alami pada suatu ruas sungai.
2. Peristiwa alam yang bersifat dinamis yang dapat menjadi penyebab banjir seperti curah hujan yang tinggi, pecahnya bendungan sungai, peluapan air yang berlebihan, pengendapan sendimen / pasir, pembendungan air sungai karena terdapat tanah longsor , pemanasan global yang mengakibatkan permukaan air laut tinggi.
3. Faktor kegiatan manusia yang dapat menyebabkan banjir adalah adanya pemukiman liar di daerah bantaran sungai, penggunaan alih fungsi resapan air untuk pemukiman, tata kota yang kurang baik, buangan sampah yang sembarangan tempat, dan pemukiman padat penduduk (http://dwiiastuti.blogspot.com/2010/03/makalah-penyebab-banjir-di-daerah.html).

2.3 Yang Bertanggung Jawab Atas Banjir Di Ibukota
Ketidakkonsistenan pemerintah terbukti karena tidak ada real action dari pemerintah. Padahal Pemerintah kita salah satu negara yang mendukung konferensi perubahan, akan tetapi sekarang tetap  banyak kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan, terbukti banyak perumahan, apartemen mewah yang tidak ramah lingkungan yang tidak berifkir tempat penampungan air dan sanitasi yang baik. Semakin tahun semakin meningkat intensitas banjir. Konsep hijau harus diterapkan setiap kebijakan pemerintah hal ini tertuang dalam UU RI No.32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan bahkan sanksinya cukup tegas. Akan tetapi hal itu dianggap lalu. Dan masyarakatpun seakan menikmati dengan adanya banjir menganggap banjir adalah hal biasa, bagaimana tidak pola fikir ( MIndset ) yang menganggap banjir adalah hal biasa dan dinikmati. Membuang sampah di sungai adalah hal biasa dan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan hanya sebatas obrolan bukan sebuah tindakan. Jika semua orang berfikir satu orang saja yagn membuang sampah mengakibatkan banjir dan merugikan ratusan hingga ribuan orang. Jika Pemerintah yang membuat kebijakan ( Green Policy ) dan rakyat melaksanakan kebijakan itu maka Indonesia bebas banjir.
Permasalahan Banjir di Indonesia merupakan masalah klasik yang tidak pernah dapat teratasi secara tuntas. Terutama terjadi dikota-kota besar yang tersebar dari sabang hingga merauke. Minimnya pengetahuan tentang perencanaan tata ruang dan rendahnya akan kesadaran serta kelestarian lingkungan menjadi akar permasalahan banjir tidak pernah tuntas teratasi. Kendati telah mengetahui permasalahan tersebut, pemerintah masih saja mengkambing hitamkan tingginya curah hujan. Padahal masalah fundamental terkait dengan kelestarian lingkungan dan keseimbangan alam tidak pernah menjadi fokus perhatian.
Sebagai negara yang diapit dua benua dan dua samudra, Indonesia memiliki dua musim yaitu kemarau dan penghujan. Pada awalnya keseimbangan itu terjadi, dimana lahan terbuka hijau tumbuh subur di tanah Nusantara. Ketika kemarau tidak terjadi kekeringan dan ketika musim penghujan, daerah resapan air masih mampu menampung debit air yang turun ketika hujan. Namun, fenomena itu kini telah musnah, dan hanya kenangan. Pendirian gedung-gedung pencakar langit, pembangunan perumahan, perambahan hutan,  tata ruang buruk, dan sanitasi yang tidak memadai menjadi alasan yang kuat banjir terus datang setiap tahunnya.
Data  State of the World’s Forests 2007 dan  The UN Food & Agriculture Organization (FAO), menyebutkan angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 mencapai 1,8 juta hektar/tahun. Dengan laju deforestasi hutan tersebut, membuat Guiness Book of The Record memberikan “gelar kehormatan” bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Dari total luas hutan di Indonesia yang mencapai 180 juta hektar, Kementerian Kehutanan (sebelumnya menyebutkan angka 135 juta hektar) sebanyak 21 persen atau setara dengan 26 juta hektar telah dijarah total sehingga tidak memiliki tegakan pohon lagi.
Rusaknya ekosistem dan keseimbangan lingkungan merupakan suatu bentuk minimnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan. Kepentingan jangka pendek selalu mendominasi setiap tindakan dan kebijakan yang dibuat. Alhasil, kerugian jangka panjang pun hanya menunggu waktu saja. Kondisi ini semakin diperparah dengan buruknya sanitasi, baik karena sampah maupun sedimentasi yang menurunkan daya tampungnya. Akibatnya, banjir pun menjadi langganan, disejumlah daerah di tanah air terutama kota-kota besar.





2.4 Cara Mengatasi Banjir Di Ibukota
Bila ingin mencari cara menanggulangi banjir, yang harus kita lihat terlebih dahulu adalah mengapa banjir bisa datang. Banjir bisa terjadi sebenarnya karena ulah manusia sendiri. Lihat saja, di kota-kota besar, sungai yang sebenarnya berfungsi untuk menampung air disalahgunakan untuk menampung sampah. Di sekitar sungai tersebut, bahkan, dijadikan permukiman.
Kondisi tersebut diperparah dengan kurangnya pepohonan yang berfungsi sebagai jantung kota. Bisa kita hitung sendiri, kira-kira berapakah perbandingan antara hutan kota dengan gedung-gedung bertingkat. Mana yang lebih banyak.
Ibarat rumah, kota-kota yang rawan banjir tersebut adalah rumah yang tidak memiliki atap dan jendela. Saat badai menyerang, otomatis tidak ada perlindungan sama sekali.

Cara Menanggulangi Banjir
Apakah kita akan terus-menerus membiarkan kondisi tidak sehat terjadi di kota-kota yang rawan banjir. Tentunya tidak. Itu sebabnya, kita dan pemerintah harus mencari cara menanggulangi banjir meskipun sebenarnya cara tersebut sudah ada. Kita tinggal merealisasikannya.
Berikut ini beberapa cara untuk menanggulangi banjir.
  1. Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Sungai dan selokan adalah tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.
  2. Larangan membuat rumah di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian. Malah sebaliknya, merusak lingkungan. Itu sebabnya, pemerintah seharusnya tegas, melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama (untuk menetap).
  3. Menanam pohon dan pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi lagi. Pohon adalah salah satu penopang kehidupan di suatu kota. Bayangkan, bila sebuah kota tidak memiliki pohon sama sekali. Apa yang akan terjadi? Pohon selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada lagi pohon, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila hujan tiba (http://www.anneahira.com/cara-menanggulangi-banjir.htm).
Cara menanggulangi banjir tersebut bisa dilakukan saat ini juga. Bila tidak sekarang, kapan lagi? Kita semua wajib memikirkan cara menanggulangi banjir. Bagaimanapun, hal itu adalah tanggung jawab bersama. Mari kita lakukan dari sekarang!

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan kesluruhan, khususnya pada daerah Jakarta Selatan maka kesimpulan yang dapat ditarik oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Daerah  Jakarta Selatan ini terjadi banjir disebabkan oleh pemukiman padat penduduk, saluran air yang diperkecil, alih fungsi lahan, tidak ada resapan air, dan pembuangan sampah yang liar.
2. Karena daerah ini sering di datangi banjir, maka warga yang menjadi korban banjir yang selalu terkena dampak nya, seperti :
a. Ancaman wabah penyakit
b. Aktivitas masyarak terganggu
c. Ancaman penyakit diare
d. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk

3. Cara mengatasi banjir di daerah Jakarta selatan adalah
a.       Membuat daerah resapan air yang lebih luas lagi, dan jangan memperkecil saluran air yang sudah ada.
b.         Mengkaji ulang tata kota daerah Kebagusan, untuk mengetahui titik-titik daerah banjir.
c.         Membuat tanggul baik yang permanent atau non permanent dirumah masing-masing    yang selalu terkena banjir.
d.         Dan di himbaukan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah pada tempatnya.
e.         Jangan mendirikan bangunan di lahan yang memang rawan banjir.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis mencoba memberikan masukan yang mungkin dapat berguna bagi penanganan banjir di Daerah Jakarta Selatan.
Sebaiknya seluruh warga membuat musyawarah dalam penanganganan maslah banjir seperti tindakan kesiapsiagaan warga terhadap banjir datang, tindakan yang seharusnya dilakukan di setipa rumah dalam mengatasi banjir datang, penyuluhan tentang kegiatan yang dapat mengurangi resiko banjir, tindakan saat terjadi banjir dan setelah banjir kepada seluruh warga Kebagusan Jakarta Selatan.